Rakaat Rindu
Ia terlihat begitu lelah mengendarai rindunya
Ia ingin sampai ke rakaat terakhir
Dimana perasaan tak lagi dipertimbangkan
Sebagai pertanyaan-pertanyaan
Ia berjalan, lagi dan lagi
Melewati kampung hatinya dan hati kekasihnya
Dengan perasaan yang capek dan melelahkan
Sebentar lagi ia akan sampai ke rakaat terakhir
Dimana kerinduannya akan terus dibayang
Hingga ke halaman puncak ingatan
2021
Bersujud dalam Perasaan
Telah kuletakkan perasaanku ke dalam perasaanmu
Hingga semua orang tak bisa meletakkannya
Sebagai kekasihnya
Telah kusujudkan perasaanku ke dalam perasaanmu
Agar semua orang tahu
Bahwa satu-satunya orang yang mencintaimu adalah aku
2021
Saronen Pengantin
Langkah kaki kuda itu semakin gesit
Ia membawa perasaanku yang berceceran di halaman rumah
Bersanding dengan bunyi saronen dan gema Tabbuwan
Dan gerak sepasang pengantin itu
Seperti tarian Mowang Sangkal
Yang indah dan berlumur ingatan
Kita menyaksikannya sebagai hiburan
Sebagai ritual dari gema kebahagiaan
2021
Rahem, Kelahiran Sumenep, 20 April 1999. Alumni Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin. Ia aktif di Komunitas Anak Sastra Pesantren ( ASAP ) menjadi pendamping dari Sanggar Sareyang Miftahul Ulum. Beberapa puisinya terbit di koran dan antologi bersama. Di antaranya; Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Rakyat Sultra, LP Ma’arif NU Jawa Tengah, Berbisik pada Dunia (Yayasan Hari Puisi), Festival Sastra Internasional Gunung Bintan, Banjarbaru’s Rainy Day, Obituari Mengenang Yoevita, Alumni Munsi dan lain-lain.

