Image Slider

Stop Khilafah! Rasulullah Ajarkan Nilai-nilai Bernegara

Kota, NU Online Sumenep

Secara tekstual, sistem khilafah tidak ada. Jika berkaca pada sejarah, utamanya dari segi suksesi perpindahan kekuasaan di masa Dinasti, menggunakan genosida atau pertumpahan darah.

Penegasan ini disampaikan oleh KH Ahmad Madzkur Wasik pada acara penguatan ideologi Keaswajaan di kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kota, Sabtu (08/10/2022).

“Haruskah ada pertumpahan darah di Indonesia? Nabi tidak mengajarkan sistem, tetapi nilai-nilai bernegara,” ungkapnya pada pengurus Ranting NU di perkotaan.

Dilanjutkan, yang di maksud nilai-nilai itu adalah pakta integritas perjanjian Madinah. Perjanjian tersebut, memperjuangkan dan membela kesatuan negara Madinah tanpa ada batasan agama, ras, suku, dan semacamnya.

“Ini yang dikatakan ummatun wahidah,” ujar A’wan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan itu.

Dijelaskan, yang diperangi nabi adalah kedzaliman. Peperangan dimulai karena ada agresi. Artinya, perang tersebut bagian dari respon kedzaliman yang muncul dari kalangan non muslim.

“Jika memang orang non muslim wajib diperangi, maka yang pertama kali dibunuh oleh nabi adalah Abu Thalib. Ia tak masuk Islam, tapi membela Nabi Muhammad Saw,” sergahnya sembari melemparkan senyuman.

Tak hanya itu, bangsa yang ada di Madinah bukan dari kalangan muslim saja, tetapi sangat beragam seperti halnya di Indonesia.

“Bayangkan, selain kita mengenal kaum Anshar dan Muhajirin, ada pula Bani Quraizhah, Qaynuqa, dan Nadhir,” imbuhnya.

Menurut pengasuh Wakil Ketua Pengurus Cabang (PC) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Sumenep itu, makna khalafah umum. Karena manusia khalifah fil ardhi.

“Tak mungkin makhluk sosial hidup sendiri. Bersosial, berkomunitas, dan sejenisnya. Oleh karenanya, seseorang berkomitmen dalam sebuah payung ideologi,” ujar Kiai Madzkur.

Selama tidak ada kedzaliman dalam ideologi, sambungnya, ternyata agama melegitimasi. Pasalnya, agama dan negara tidak bisa dipisahkan.

“Hukum qisas ada. Namun di masa pemerintahan amirul mukminin Umar bin Khattab r.a, hukum tersebut dianulir. Karena pencuri melakukan dalam keadaan terpaksa atau lemah di bidang ekonominya (kelaparan),” terangnya.

Selain itu, lanjutnya, Umar bin Khattab melakukan shalat tarawih secara berjamaah sebulan suntuk Padahal nabi berjamaah 3 kali dalam satu bulan.

Melihat fenomena itu, Utsman bin Affan r.a berkata, masjid ramaikan oleh Umar. Maksudnya, beliau menyikapi tarawih tersebut memiliki nikmat yang lebih dan nyaman pada masyarakat di masa itu.

“Ibadah bukan hanya yang mahdhah saja. Tetapi ada yang ghairu mahdhah. Jika yang mahdhah tidak boleh diubah. Namun yang ghairu mahdhah tidak murni atau bercampur dengan kebutuhan tubuh dan adat istiadat yang ada,” tuturnya.

“Cara umat nabi dalam beribadah sangat beragam. Ada yang tahlilan, manaqiban, shalawatan, pulang kampung saat lebaran, dan masih banyak lagi tradisi Islam Nusantara yang tidak keluar dari agama,” ucap pengasuh Pondok Pesantren An-Najah Karduluk itu.

Respon Aswaja pada Firqah

Kiai Madzkur menegaskan, NU bukan partai politik. NU adalah jam’iyah diniyah ijtimaiyah yang didirikan oleh ulama atas restu Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan.

“Sudah 1 abad usia NU. Jika bukan wali yang mendirikan, sudah bubar sejak dulu, terutama di masa Orde Baru. Keberadaan NU saat ini tak pernah goyah, walaupun diterpa berbagai macam fitnah dan propaganda,” dawuhnya.

Menurut kacamatanya, Ahlussunnah wal Jamaah yang digaungkan oleh Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi bagian dari respon atas sekte yang mulai menyimpang dari teologi ketuhanan atau keluar dari ajaran nabi dan sahabat.

“Di zaman nabi memang tidak muncul Aswaja. Karena respon nabi adalah maa ana ‘alaihi wa ashabi. Setelah lepas dari masa Khulafaur Rasyidin, al-Asy’ari menjadi lokomotif Aswaja yang memberikan penjelasan tentang Islam nabi dan sahabat,” ujar alumni Pascasarjana Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk itu.

Disebutkan, sejak tahun 200 an me belakang, respon umat beragam. Padahal mazhab dan keyakinan sudah ada. Namun jika kembali pada hadits nabi bahwa Islam akan terpecah menjadi beberapa golongan. Sebut saja, Khawarij, Syiah, Murji’ah, Qadariyah, Jabariyah dan sebagainya.

Persoalan perbedaan, terlebih masalah bid’ah yang acap kali dilontarkan oleh sebagian orang, mendapat respon dari kalangan Aswaja. Untuk meluruskannya, ulama merespon dalam perspektif sejarah, pemikiran yang dalam dan diuji dengan peradaban.

“Gesekan politik dan teologi inilah yang melatar belakangi adanya respon tentang sifat-sifat Allah yang dibahas dalam ilmu kalam. Ingat, al-Asy’ari bukan membuat mazhab baru tetapi meneruskan ajaran nabi dan sahabat,” imbaunya.

“Berhubung Aswaja diterima oleh umat manusia, kini banyak yang mengaku-ngaku Aswaja, tapi amaliyahnya tidak sama,” pungkasnya.

Editor : Ach Zubairi Karim

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga