Image Slider

Kekerasan Gender Berbasis Online Marak Terjadi, Forum Perempuan Sumenep Gelar Diskusi

Kota, NU Online Sumenep

Forum Perempuan Sumenep bersama Tabularasa dan dapurkultur selenggarakan Diskusi Online bertajuk ‘Kekerasa Gender Berbasis Online; Posisi Perempuan sebagai Korban dan/atau Pelaku’, pada Jum’at kemarin (15/1/2021).

Kegiatan yang diselenggarakan via Zoom Metting ini didukung oleh Lembaga Kemashlahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) Sumenep, Kopri Universitas Wiraraja, Korps Himpunan Mahasiswa Islam Wati (Kohati) Sumenep, Koalisi Perempuan Indonesia, Komunitas Toremaos, Sarasehan Perempuan, Forum Komunikasi Mahasiswa Sumenep (FKMS) dan NU Online Sumenep.

Menghadirkan Muallifa dari Puanmenulis dan Mubadalah.id dan Wiwik Afifah Dosen Ilmu Hukum Untag Surabaya sebagai pemateri, serta Ulfatun Hasanah dari Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Nahdlatul Ulama (NU) Sumenep sebagai moderator atau pemadu diskusi online tersebut.

Iva Misbah, penyelenggara dari pihak dapurkultur mengungkapkan bahwa topik yang berkaitan dengan kekerasan gender hari ini masih sering terjadi, bahkan jumlahnya semakin meningkat.

“Apalagi saat kondisi pandemi Covid-19 saat ini, trend kekerasan gender marak terjadi, utamanya di media sosial,” ungkap Pengurus LKKNU PCNU Sumenep itu.

Ulfatun Hasanah, saat membuka diskusi online tersebut menyampaikan bahwa era kehidupan yang serba tekhnologi ini membuat manusia tidak bisa lepas dari pengaruh smartphone. Sehingga kekerasan di media sosial acap kali terjadi.

“Dari sejak bangun tidur sampai bergegas untuk tidur kembali, kita sudah bergelut dengan smartphone. Dari itu kekerasan gender di media sosial berpeluang besar untuk terjadi. Maka dipandang perlu untuk kita bincangkan saat ini, guna menemukan solusi dari persoalan dimaksud,” ujarnya saat memandu diskusi.

Kekerasan Gender Berbasis Online (KGBO) ini menurut Muallifa, bentuknya sangat variatif. Mulai dari yang sederhana, seperti maraknya para pemakai sosial media menggunakan stiker WhatsApp dengan gambar wanita seksi. Bahkan menurutnya tidak jarang juga beberapa di antara mereka, para pelaku, mengomentari foto atau video unggahan di akun media sosial dengan konten-konten yang mengarah kepada pelecehan seksual.

“Meski terkadang seseorang tidak menyadari bahwa tindakan-tindakan seperti itu termasuk KGBO. Lebih parahnya lagi tidak jarang juga seseorang cenderung menyalahkan pihak perempuan karena dianggap memancing komentar negatif dari seseorang,” ungkapnya saat menjelaskan materi.

Pihaknya berharap dengan melibatkan berbagai instansi maupun personal, bisa bersama-sama menyadari akan realitas tersebut. Sehingga persoalan demikian bisa diatasi, dan isu-isu gender tidak muncul lagi ke permukaan sebagai sebuah persoalan.

Editor: Abdul Warits.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga