Image Slider

Ketua NU Sumenep: Pengurus Harus Memerankan Syuriyah

Ganding, NU Online Sumenep

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, KH  Pandji Taufiq dalam kegiatan silaturrahim dan penguatan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) dan Ranting NU se-Kecamatan Ganding mengatakan, selama ini pengurus kurang memerankan Syuriyah sebagai pemilik NU, Sabtu (29/01/2022) di kantor setempat.

Beliau katakan bahwa semestinya yang membawa NU di ranting itu adalah orang yang sehari hari dibutuhkan kerja sosial keagamaannya di masyarakat, yaitu guru ngaji dan kiai kampung yang dalam struktur ke-NU-an mereka berada dalam jajaran Syuriyah.

“Kita kurang memerankan Syuriyah secara maksimal. Mungkin ini yang terlihat agak berat jalannya. Sebagai organisasi kita ini masih sekedar ada, belum hidup,” ujarnya sembari meyakinkan pengurus.

Kemudian ia mengibaratkan pemilik kandaraan yang punya Buku Kepemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) sepeda motor atau mobil adalah Syuriyah. Adapun Tanfidziyah hanya pemegang Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), karena akan mengemudikan kendaraan.

Selain itu, ia menginginkan agar ranting NU di Sumenep kuat. Lalu mengetengahkan kriteria ranting NU. Pertama ada pengurusnya, kedua ada kumpulannya, ketiga ada i’anah syahriyah yang diperlukan untuk membiayai hidup organisasi.

“Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari membiayai kegiatan NU dengan harta yang dimilikinya sendiri. Datang ke seluruh PCNU se-Indonesia selama kurang lebih dua tahun,” sambungnya.

Dengan demikian, lanjutnya, yang dikatakan anggota NU adalah mereka yang setiap bulan membayar i’anah syahriyah.

Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk ini mengatakan, pengurus MWCNU merupakan kepanjangan tangan dari PCNU, karena MWC singkatannya Majelis Wakil Cabang. Berbeda dengan Ranting NU yang disebutnya sebagai Pengurus Ranting dalam penjenjangan kepengurusan.

“Tanpa MWC tangan cabang terbatas. MWC itu Wakil PCNU di kecamatan. Syukuri bersama keadaan kita ini. Tidak semua orang diberi kesempatan mengabdi di NU, semoga besok kita terus bersama para Muassis NU masuk sorga,” doanya.

Tak hanya itu, ia menjelaskan tujuan silaturrahim PCNU untuk menyambung hati, bukan sekedar menyambung struktur, karena NU bukan organisasi main-main.

“Ini bukan tugas main-main. Tugas NU adalah tugas agama yang dilaksanakan dengan cara agama dan dengan bahasa agama,” terangnya.

Sebagai pengurus yang bertugas menjalankan tugas agama, menurutnya, belum tentu diterima oleh masyarakat. Karena itu maka perlu memerankan Syuriyah dengan sebaik-baiknya.

“Tugas NU itu tugas risalah keagamaan. Kami sejatinya ini pelayan, pemilik NU bukan pengurus PCNU, PWNU dan PBNU, melainkan pengurus ranting dan masyarakat ranting yang kebanyakan guru ngaji dan kiai kampung,” tambahnya.

Ia tambahkan bahwa setiap hari selalu ada kegiatan NU, tetapi tak mencari kehebatannya, melainkan mencari ridha Allah SWT. Tugas NU itu sangat berat, karena itu mohon doa dari semua kiai di ranting.

Kiai Pandji menyadari bahwa NU saat ini semakin besar. Secara ekonomi setiap tahun ada uang masuk 1,2 milyar dari Baitul Maal wa Tamwil Nuansa Umat (BMTNU), itu harus dipertanggungjawabkan dengan baik oleh pengurus NU.

“Pengelolaan sosial dan aset NU harus dikelola secara betul dan transparan.Tamtsilnya adalah rumah tangga, kalau dalam rumah tangga tidak terbuka dalam keuangan, tunggu keretakannya,” ujarnya.

Di akhir pengarahannya, ia meminta agar NU di akar rumput juga menguatkan partispasi masyarakat.

“Banyak kegiatan perlu kita gerakkan dengan partisipasi masyarakat, karena itu kekuatan kita,” tutupnya.

Acara diparipurnai dengan pemberian cinderamata oleh MWCNU Ganding kepada PCNU Sumenep.

Editor: Firdausi

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga