Pragaan, NU Online Sumenep
Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan membentuk Pengurus Anak Ranting Nahdlatul Ulama (PAR NU) di mushala Al-Qadar Dusun Dung Gaddung, Desa Karduluk, Sabtu (29/01/2022).
Ketua MWCNU Pragaan, KH A Ahmad Junaidi Mu’arif mengatakan bahwa NU adalah jam’iyah diniyah ijtimaiyah, organisasi keagamaan dan kemasyarakatan. Untuk menjalankan fungsi tersebut, perlu menguatkan ranting dengan membentuk PAR NU berbasis masjid dan mushala.
“Ranting kuat jika ada pengurus anak ranting berbasis masjid dan mushala. Jangan lupa sejarah, NU berdiri awalnya dari mushala dan masjid, lalu mewujud menjadi orgnisasi NU,” terangnya.
Sementara itu, Rais MWCNU Pragaan, KH Zarkasyi Abdurrahim mengatakan, kebanyakan warga NU masih sebagai NU kultural, hanya sebagian saja yang sudah merangkak ke NU struktural yang mampu memahami NU sebagai gerakan kemasyarakatan. Namun demikian pihaknya mengakui bahwa barokahnya masyaikh di Karduluk luar biasa, meski sejak awal kebanyakan NU kultural tapi sampai saat ini Ranting NU Karduluk tetap berjalan dengan baik menjadi ranting unggulan.
Berkaitan pentingnya membentuk PAR NU, beliau katakan alhaqqu bila nidhamin yaghlibuhul bathilu bi nidhamin, kebenaran yang tidak diorganisir akan mampu dikalahkan oleh kebatilan yang diorganisir.
“Apa yang nyata benar kalau tidak dimenej dengan baik maka kalah dengan kebatilan yang diorganisir,” ujarnya.
Jamaah saja banyak tidak menjamin keutuhan organisasi, maka jamaah itu harus ditingkatkan menjadi jam’iyah.
“NU harus bergerak secara proporsional dan profesional. Ini kita akan bertanding dengan kelompok yang saat ini muncul. Perlu pengakaran yang kuat,” pintanya.
Beliau katakan, sebuah pohon tak akan bisa menjulang tinggi ke langit kalau tidak mengakar secara kuat ke bumi.
“Supaya mendapatkan sambungan barokah dan mengakar kuat, maka perlu dibentuk PAR NU,” pungkasnya.
Setelah dibentuk PARNU, lalu disepakati oleh anggota yang hadir, maka forum dibuka ruang dialog di mana warga menyampaikan kegelisahan pada kalangan millenial yang belum mengenal NU secara utuh. Juga peran pengurus yang telah dibentuk agar tetap diperhatikan dan dibina.
“Kami memahami NU hanya untuk yang dewasa, kalangan millenial belum mengenal NU secara baik,” ujar Bapak Mursyid salah satu peserta rapat PAR NU.
Editor: Firdausi

