Bluto, NU Online Sumenep
Nahdlatul Ulama lahir dan dibesarkan secara mandiri. Pengurus dan warga NU membesarkan jam’iyah kebanggaannya lewat kantong sendiri tanpa meminta bantuan kepada pihak manapun. Pernyataan tersebut disampaikan oleh KH A Pandji Taufiq dalam acara Resepsi Hari Lahir NU yang ke-98 dan Pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep di Pondok Pesantren Nurul Islam Karangcempaka, Bluto.
“Pengurus NU sudah terbiasa menggelar kegiatan secara mandiri. Direncanakan sendiri, dilaksanakan sendiri, dan didanai sendiri. Termasuk acara pada kesempatan kali ini,” dawuh ketua PCNU Sumenep masa khidmat 2020-2025 ini.
Beliau juga berterima kasih kepada keluarga Pondok Pesantren Nurul Islam Karang Cempaka Kecamatan Bluto, utamanya KH Ramdlan Siradj Pengasuh Ponpen Nurul Islam, dan KH M Ilyasi Siradj Ketua Yayasan Pond-Pest Nurul Islam, yang telah bersedia menjadi tuan rumah pada acara tersebut.
“Ketika kami sowan kepada Kiai Ramdlan Siradj dan Kiai Ilyasi Siradj, beliau berdua langsung mengatakan ‘Siap’. Ini juga harus dicontoh oleh para pengasuh agar juga mengatakan siap bila pesantrennya hendak ditempati acara NU,” ujar alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk ini.
Ketua PCNU Sumenep tiga periode ini juga menyampaikan cita-citanya untuk mendirikan rumah sakit NU mengingat populasi kaum nahdliyin yang begitu besar. Kini, tanah yang sudah berhasil dibeli dengan cara sumbangan itu untuk tahap berikutnya akan dibangun rumah sakit NU.
“Alhamdulilah berdasarkan hasil swadaya kita telah mampu membeli tanah seluas tiga hektar sekarang tinggal pembangunan Rumah Sakit NU,” tambahnya.
Di akhir penyampaiannya, Kiai Pandji memohon doa kepada hadirin agar diberikan kekuatan untuk mengabdi di Nahdlatul Ulama. Pihaknya berharap agar ke depannya tidak tergelincir kepada jalan yang mencemari nama NU sendiri.
“Kami mohon doa, utamanya kepada Rais ‘Aam PBNU, KH KH Miftachul Akhyar serta seluruh hadirin agar diberikan kekuatan dalam mengemban amanah, serta dijauhkan dari hal-hal yang dapat mencemari nama baik NU,” pungkasnya.
Editor: Ibnu Abbas

