Pragaan, NU Online Sumenep
Di malam ketiga pasca wafatnya KH Imron Syahruddin, Mustasyar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan, KH Musleh Adnan diminta oleh dzurriyah untuk memberikan tausiyah pada jamaah tahlil di masjid, tepatnya di Pondok Pesantren Nurul Huda Pakamban Laok, Pragaan, Sabtu (25/9/2021).
Kiai asal Kabupaten Jember yang kini menetap di Pamekasan mengutarakan, kedatangannya ingin menyambung rohani dengan almarhum atau tabarukan dan ngalap barokah. Sebab orang yang masih hidup bisa berhubungan secara spiritual dengan orang yang sudah wafat.
“Kita yang hadir pada malam ini tak hanya memberikan doa. Namun untuk tabarukan. Sebab almarhum adalah sosok ulama yang alim, zuhud, dan suka mendoakan kita semua. Baik dalam keadaan suka dan duka,” katanya saat mengawali wejangannya.
Tak hanya itu, secara fenomenologis, doa Kiai Imron ‘mantih’ atau mustajab. Ibarat pedang tajam yang berada dalam warangkanya. Namun ketika beliau wafat, ia mengibaratkan pedang yang baru saja dicabut dari warangkanya.
“Beliau memiliki ‘kajunilan’ (Red Madura) atau kelebihannya tinggi dibandingkan dengan kita. Juga derajat atau maqamatnya berbeda jauh dengan kita. Nah berbicara rasa dan pengalaman, kita tak usah membicarakannya, kecuali bagi orang yang merasakan. Jika ingin bukti, rasakan sendiri,” ungkap Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Pamekasan itu.
Kiai Musleh mengajak pada jamaah untuk memperbanyak membaca surat Fatihah dan tawasul untuk menyambungkan rasa.
“Walaupun beliau wafat, setrumnya semakin tinggi. Tidak akan redup. Karena Kiai Imron berada di mana-mana. Mulai dari amalan yang beliau berikan, nilai etika yang beliau ajarkan, dan yang lainnya,” tandasnya.

