Image Slider

Kolaborasi Apik Pencak Silat Ding-Dung Pagar Nusa Gapura dan Ritual Pojiyan

Gapura, NU Online Sumenep
Pimpinan Anak Cabang (PAC) Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Kecamatan Gapura menggelar temu rutin bulanan. Kegiatan itu dikemas dengan acara ‘Kompolan Pencak Silat Tradisional Ding-Dung’. Bertempat di Madrasah Al-Huda Dusun Pangabasen, Desa Gapura Timur, Gapura, pada Rabu (14/09/2022).

Berbeda dari biasanya, kegiatan yang diawali dengan pembacaan tahlil dan shalawat qiyam kali ini berkolaborasi dengan seni ritual Pojiyan.

K. Muiz Ali Wafa, ketua PC PSNU Pagar Nusa Sumenep dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada PAC PSNU Gapura dan komunitas Pojiyan yang telah mengadakan kegiatan bersama dalam rangka meningkatkan ketaqwaan kepada Allah dan kecintaan kepada Rasulullah melalui kegiatan tradisional pencak silat dan pojiyan.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada PAC PSNU Gapura dan Komunitas Pojiyan atas diadakannya acara ini,” ungkapnya.

Menurut mantan Wakil Bupati Sumenep ini melestarikan seni tradisi merupakan bukti kecintaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menurutnya, dalam hal ini Pagar Nusa bertugas untuk membentengi ulama, ajaran Aswaja, dan NKRI.

“Jadi tugas Pagar Nusa adalah membentengi ulama, membentengi ajaran ahlussunnah wal jamaah, dan membentengi NKRI,” tegasnya.

Sementara Ketua PAC PSNU Pagar Nusa Gapura Kiai Tirmidzi Mas’ud mengutarakan, selain memupuk solidaritas di tubuh organisasi, pertemuan rutin tersebut juga sebagai salah satu upaya membumikan Islam Wasathiyah kepada anggota Pagar Nusa dan warga yang hadir melalui corong seni dan budaya tradisonal.

“Tujuannya untuk membumikan Islam Wasathiyah pada anggota Pagar Nusa itu sendiri, juga kepada warga yang menonton acara ini,” ujarnya kepada NU Online Sumenep di sela-sela acara.

Ditanya perihal teknis pelaksanaanya, Kepala SMA Pesantren Al-Inam ini menjelaskan, bahwa acara ini digelar setiap bulan sekali, setiap malam Kamis minggu kedua. Sedangkan yang menjadi tuan rumah adalah masing-masing Ranting dan Rayon secara bergilir.

“Tapi jika ada yang meminta selain waktu yang ditentukan, dan apabila permintaan itu direspon oleh PAC PSNU Pagar Nusa Gapura, maka diadakanlah Selladan (waktu kegiatan diluar yang semestinya). Dan dalam kegiatan ini juga ada kewajiban membayar uang arisan sebagai pengikat,” tambahnya.

Pria yang akrab dipanggil Kiai Tir ini menambahkan bahwa atraksi-atraksi yang ditampilkan santri Pagar Nusa semuanya bersifat menghibur. sebagai obat penat setelah seharian bekerja.

“Ini bisa menjadi obat penat setelah seharian bekerja di sawah, ladang, dan aktivitas lainnya. Semoga kegiatan ini bisa menjadi perekat ukhuwah Nahdliyyah, wahana menjalin Silaturahmi dengan warga NU,” ungkap Alumnus PP. Annuqayah ini.

Adapun Ketua Penggerak Pojiyan, Kiai Quraisyi mengatakan bahwa diadakannya Pojiyan di lingkungan pesantren, selain bertujuan untuk menjaga kearifan lokal dan sakralitas, juga untuk mengenalkan tradisi leluhur yang dulu masih belum banyak tahu baca tulis tetapi mampu menghadirkan nilai-nilai ketuhanan, kemanusian, dan lingkungan secara seimbang melalui bahasa lisan mereka yang khas.

“Kegiatan ini bertujuan mengenalkan bagaimana leluhur kita yang masih belum banyak tahu baca tulis tetapi mampu menghadirkan nilai-nilai ketuhanan, kemanusian, dan lingkungan secara seimbang walaupun dengan bahasa lisan mereka,” jelasnya.

Ketua PC LAZISNU Sumenep itu menambahkan, yang terlibat sebagai aktor yang memainkan ritual Pojiyan terdiri dari lintas generasi, mulai dari yang tua sampai generasi muda, bahkan kiai.

Kiai Quraisyi berharap agar tradisi Pojiyen ke depan tetap eksis di tengah masyarakat dengan tetap mengeja dan mengaji kalamullah yang tak terbatas.

“Karena dalam ritual ini ada semangat ngemong, le ya lelle, mole dan lainnya. Sejatinya leluhur kita sejak dulu sudah mengajarkan kita membangun keseimbangan hidup terhadap sesama, terhadap alam, dan lingkungan,” pungkasnya.

Hadir dalam acara tersebut PAC PSNU Pagar Nusa Gapura, Batang-Batang, Dungkek, Batuputih, Manding, dan Bluto. Para simpatisan masyarakat setempat turut memeriahkan unjuk kebolehan para pendekar yang tampil secara bergiliran.

Editor: Ibnu Abbas

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga