Lenteng, NU Online Sumenep
Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Lenteng peringati Nuzulul Qur’an dan Hari Lahir (Harlah) GP Ansor ke-78 dengan tajuk Ngaji ala Ansor (Ngaso), pada Selasa kemarin (27/4/2021).
Kegiatan yang bertempat di Sekretariat Pimpinan Ranting (PR) GP Ansor Desa Lenteng Barat Kecamatan Lenteng ini dihadiri oleh segenap elemen NU struktural, mulai dari Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Sumenep, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Lenteng, dan Ranting NU se-Kecamatan Lenteng.
Diusia yang tidak lagi muda, keberadaan GP Ansor seharusnya dijadikan sebagai wadah berkhidmat untuk meraih barakah. Sebab GP Ansor adalah organisasi kepemudaan badan otonom (Banom) NU yang dekat dengan ulama. Hal ini disampaikan Kiai Qumri Rahman, Ketua PC GP Ansor Sumenep.
“Terima kasih sebanyak-banyaknya sahabat Ansor Lenteng terus bersemangat berkhidmat di Ansor. GP Ansor merupakan organisasi yang dekat dengan Ulama. Siapa tau dengan berkhidmat di Ansor kita bisa mendapatkan barakahnya Ulama,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Damanhuri, yang bertindak sebagai pengisi tausiyah Ngaji ala Ansor menuturkan bahwa turunnya Al-Qur’an sarat dengan pesan untuk membaca, yakni iqra’ (bacalah). Dengan begitu menurut beliau pemuda GP Ansor bisa merefleksikan hal tersebut untuk memajukan organisasi, melalui meningkatkan kualitas diri.
“Perbanyak membaca dulu baru kemudian menyampaikan. Jangan terburu-buru ingin menyampaikan jika belum banyak membaca. Membaca itu banyak, bisa membaca kondisi lingkungan, keadaan sekitar dan semacamnya,” tandas beliau.
Kiai yang juga menjabat sebagai Pengurus Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPT NU) Sumenep ini meminta agar bisa memanfaatkan perkembangan teknologi informasi sebaik mungkin. Sebab menurut beliau melalui media informasi semua bisa berkomunikasi dengan baik dan menyiarkan agama Islam lebih massif.
Ada empat fase transformasi komunikasi yang menurut beliau harus dilakukan. Pertama, komunikasi melalui lisan. Kedua komunikasi melalui tulisan. Ketiga komunikasi melalui media cetak. Keempat, dan ini mereduksi tiga fase sebelumnya, komunikasi melalui media sosial. Pada fase ini sopan dan tidak sopan, etis dan tidak etis perbedaannya sangat tipis.
Keempat fase tersebut harus mampu dilalui dan dimaksimalkan oleh GP Ansor agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
“Berbicara transformasi media juang, GP Ansor harus mampu memanfaatkan media. Modal dasarnya adalah membaca. Dengan membaca tentu bisa meningkatkan kualitas pribadi, baik keilmuannya, sikapnya maupun karakternya, seperti Sahabat Ansor di masa Rasulullah SAW,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Wakil Rektor (Warek) 1 Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk Sumenep juga menyebutkan letak perbedaan kaum Ansor dengan Kaum Muhajirin yang kemudian terletak banyak keistimewaan pada jari diri Ansor. Yang kemudian menjadi nama GP Ansor. Organisasi kepemudaan NU.
“Letak perbedaan Ansor dan Muhajirin terdahulu adalah Ansor itu kumpulan orang-orang yang sudah matang dalam keilmuan, akidah, dan Ekonomi. sedangkan orang Muhajirin adalah orang yang selalu pindah-pindah. Makanya gampang diterpa angin,” pungkasnya.
Tidak hanya itu, Joko Satrio, Camat Lenteng juga berkesempatan hadir pada acara tersebut dan menyampaikan agar momentum Harlah GP Ansor ke-78 untuk memupuk semangat dan meningkatkan khidmat agar lebih progresif.
“Yang terpenting itu semangat dalam berorganisasi tidak hanya sebatas menyusun kegiatan saja, apalagi memanfaatkan organisasi untuk mencapai jabatan,” tegasnya.
Editor: Ibnu Abbas

