Batuputih, NU Online Sumenep
Pimpinan Ranting (PR) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Desa Aengmerah Kecamatan Batuputih pada Jumat malam (1/1/21) melaksanakan Tasyakuran Khatmil Kutub Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Kegiatan ini pertama kali diadakan di tingkat pimpinan ranting se-kabupaten Sumenep di masa kepemimpinan Kiai Qumri Rahman.
Kiai Qumri Rahman, Ketua Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Sumenep, mengatakan bahwa kegiatan semacam ini dapat segera diketuktularkan di ranting-ranting se-Kabupaten Sumenep. Pihaknya bersyukur dan berterima kasih kepada Ranting Ansor Aeng Merah yang sigap melaksanakan instruksi yang menjadi agenda wajib seluruh tingkatan kepemimpinan Ansor.
“Ngaji dan khatmil kutub Risalah Ahlussunnah wal Jamaah karangan Mbah Hasyim ini memang menjadi agenda wajib di semua tingkatan kepengurusan Ansor dan sifatnya instruktif. Saya sebagai pimpinan patut mengapresiasi langkah sahabat-sahabat. Khatmil Qutub di Desa Aengmerah ini baru pertama kali dilksanakan di masa kepemimpinan saya,” ungkap Qumri.
Qumri menambahkan bahwa mempelajari karangan muassis NU seperti Risalah Ahlussunnah wal Jamaah ini butuh kesabaran dan keistiqomahan. Tujuan mengaji Risalah Ahlussunnah wal Jamaah ini tidak lain dalam rangka memperkuat risalah dan aqidah keislaman kader dan warga NU di tengah-tengah benturan ideologi yang mulai marak di Indonesia.
Hal senada juga disampaikan Zainol Huda, Sekretaris PC MDSRA (Majelis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor) Sumenep, bahwa instruksi pengajian kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah karangan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari diharapkan dapat memperkuat ikatan jama’ah dan jam’iyah para kader Ansor.
“MDSR adalah badan otonom (banom) Gerakan Pemuda Ansor yang terus mengawal ideologi dan implementasi nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Sekarang ini banyak kelompok yang mengaku Aswaja, makanya dengan pengajian Risalah Ahlussunnah wal Jamaah hendak menegaskan bahwa Aswaja yang diajarkan Mbah Hasyim adalah Aswaja sesuai ajaran Rasulullah Saw,” ungkap Huda, dosen STAI Miftahul Ulum Tarate, ini.
Sementara itu Qori’ atau pengajar kitab Ustadz Mas’ad Alwie mengatakan bahwa ada tiga poin penting yang disampaikan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asyari di dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah. Pertama, di dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah memaparkan soal idologi Ahlussunnah wal Jamaah. Bahwa pada suatu saat di Nusantara terdapat banyak golongan yang mengaku paling Aswaja. Nah, adanya kitab ini sebagai jawaban. Kedua, dengan mengaji kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah kita tidak boleh dengan mudah menyalahkan pendapat yang tidak sepaham. Harapannya muncul sikap tawasut, tasamuh, dan tawazun di kalangan santri NU. Ketiga, akhir-akhir ini amaliyah NU dibenturkan dengan sunnah dan bid’ah.
“Beberapa kelompok suka menbid’ah-bid’ah-kan amaliyah warga NU seperti tahlil dan shalawatan. Adanya kitab ini menjadi jawaban atas kritik tersebut bahwa amaliyah yang dilakukan warga NU memiliki rujukan dan dalil yang jelas,” ungkapnya saat menjelaskan pengertian kitab.
Pada kesempatan itu, selain kader GP Ansor, hadir pula sejumlah tokoh masyarakat dari Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Batuputih, Kepala Desa Aengmerah beserta perangkat, takmir masjid, dan nguru ngaji se-Desa Aengmerah.
Pewarta : Elsyaf
Editor : A. Habiburrahman

