Batuan, NU Online Sumenep
Paham radikalisme menyebar di berbagai daerah. TNI dan Polri sangat gelisah saat melihat gerakannya yang sangat ekstrem.
Berangkat dari permasalahan ini, Moh Ghalib Bafadlal menyatakan bahwa Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Asy’ariyah Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Raudlatul Iman (Stidar) Ganding menangkisnya dengan tangan kiri.
“Saat tangan kiri terkepal, maka warga pergerakan akan melakukan perlawanan. Jadi filosofi tangan dijadikan simbol perlawanan terhadap oknum yang ingin mengadudomba antar sesama bangsa,” sergah Ketua PK PMII Stidar Ganding di acara podcast suara publik Radio Nusa FM, Kamis (17/6/2021).
Berdasarkan tajuk PMII Insan Peradaban, Ghalib menyatakan, penanaman intelektual sejak dini pada kader dan mahasiswa menjadi modal awal untuk menunjukkan pada khalayak tentang tekad bulat warga pergerakan dalam menyikapi beragam dinamika sosial dan politik.
“Kemarin viral isu dan berita hoax yang menyudutkan Kemenag RI tentang gagalnya Jamaah haji berangkat ke tanah suci Makkah. Nah agar tidak menggurita, kami lawan mereka dengan informasi yang memang valid kebenarannya,” katanya.
Santri Pondok Pesantren Raudlatul Iman Ganding tersebut menegaskan bahwa kepengurusan bersinergi pemerintah dan pihak lainnya untuk meminimalisir propaganda.
“Kami tidak 100% percaya pada berita dan sejenisnya. 50% kami sisakan untuk bertabayun dengan ahli demi mengklarifikasi kevalidan data,” ungkapnya.
Di akhir acara, ia menyampaikan clossing statementnya, untuk menjadi organisasi yang berperadaban, pengurus menjadikan penguatan amaliah, fikrah, dan harakah NU sebagai lompatan pengurus demi mempertahankan 4 pilar negara, yaitu Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Undang-Undang Dasar 1945.
“Seluruh problem kebangsaan, kami hadapi bersama dengan model tim work. Pesantren dan kampus adalah titik tolak gerakan dan ruhnya pendidikan. Karena keduanya merupakan corong ensiklopedia Islam,” tandasnya.
Acara dipandu langsung oleh Firdausi selaku Ketua Lembaga Ta’lif wan-Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Sumenep.
Editor: A. Warits Rovi

