Image Slider

Bahtsul Masail NU Rubaru, Diisi dengan Ta’aruf LPBI dan Sosialisasi BMKG

Rubaru, NU Online Sumenep

Pertemuan rutin Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Rubaru yang dikemas dengan Bahtsul Masail kembali digelar. Kali ini, bertempat di Masjid Asy-Syuhada Dusun Krongkong Desa Matanair Kecamatan Rubaru, pada Ahad, (20/6/2021).

Hadir dalam acara ini, Pengurus MWCNU Rubaru, lembaga, badan otonom (banom), Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) se-Kecamatan Rubaru, dan sejumlah tokoh masyarakat.

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep yang diwakili oleh Kiai Muhammad Halili juga hadir dalam rangka Ta’aruf Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Sumenep.

Selain itu, Muhammad Faqih, Pengawas Lapangan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumenep juga hadir memenuhi undangan MWCNU Rubaru untuk menyampaikan sosialisasi seputar penanggulangan potensi bencana gempa bumi dan tsunami.

Kiai Moh. Sadik, Ketua MWCNU Rubaru berharap agar eksistensi NU di Kecamatan Rubaru terus eksis dan selalu hadir di tengah-tengah masyarakat. Termasuk menjawab keresahan masyarakat terkait potensi gempa bumi dan tsunami di Kabupaten Sumenep.

“Untuk itu, kami sengaja mengundang pihak BMKG, dalam hal ini instansi pemerintah yang membidangi soal bencana alam untuk mengedukasi kita semua bagaimana sebaiknya menyikapi potensi gempa bumi dan tsunami itu. Sehingga masyarakat tidak diresahkan dan bisa mengetahui langkah-langkah apa yang harus dilakukan,” ungkap beliau kepada NU Online Sumenep, Senin (21/6/2021).

Sementara Muhammad Halili, Wakil Ketua PCNU Sumenep dalam sambutannya menuturkan bahwa perlu adanya kesiap-siangaan warga NU bilamana sewaktu-waktu terjadi bencana yang tidak diinginkan. Oleh sebab itu, pihaknya memperkenalkan LPBI sebagai departemen NU yang bergerak di bidang penanggulangan bencana alam.

“Maka LPBI hadir untuk mengedukasi masyarakat terkait penanggulangan dan upaya meminimalisir dampak buruk bilamana bencana tersebut terjadi. Semoga saja tidak,” ungkap beliau.

Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo itu menambahkan bahwa ikhtiar menyelamatkan diri dari bencana alam termasuk gempa bumi dan tsunami merupakan satu hal yang sangat penting. Karena itu perlu adanya antisipasi sejak dini.

Muhammad Faqih, Pengawas Lapangan BMKG Sumenep mewanti-wanti masyarakat agar tidak terlalu panik dan resah dengan potensi tersebut. Namun tetap selalu menjaga kewaspadaan dengan cara menjauhi hal-hal yang sekiranya dapat meninbulkan potensi tersebut.

“Di Kabupaten Sumemep sendiri berdasarkan catatan sejarah pernah terjadi tsunami dua kali pada zaman kolonial Belanda. Yakni pada tahun 1843 dan 1889,” ujarnya.

Mantan Pengurus Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) PCNU Sumenep itu menegaskan bahwa potensi gempa bumi dan tsunami di Sumenep khususnya di Pelabuhan Kalianget memang benar ada.

Hal itu dikarenakan BMKG melakukan pemodelan sesar kambing yang kemudian menghasilkan temuan bilamana terjadi gempa bumi dengan magnitudo 7 SR, maka dalam waktu kurang dari empat menit akan terjadi tsunami.

Pihaknya juga menyampaikan beberapa hal yang perlu dilakukan oleh masyarakat dalam menanggulangi potensi bencana tersebut. Bahkan dengan jelas, Faqih menjelaskan perbedaan antara potensi dengan prediksi.

“Yang kami informasikan itu potensi bukan prediksi. Sebab sampai saat ini belum ada teknologi di belahan dunia manapun yang dapat mendeteksi kapan akan terjadinya gempa bumi dan tsunami. Maka hendaknya kita selalu waspada dengan mengukuti langkah-langkah yang saya sampaikan,” pintanya.

Di acara tersebut, MWCNU Rubaru dan PRNU Matanair menyerahkan bantuan berupa santunan kepada 14 anak yatim.

Editor: Ibnu Abbas

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga