Kota, NU Online Sumenep
Wakil Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Anwar Iskandar dalam Rapat Konsolidasi tentang Pra Muktamar mengatakan bahwa PWNU berharap agar sebelum dan setelah Muktamar, kondisi dijaga sebaik-baiknya agar suasananya tetap adem, guyub dan rukun.
Selain itu, beliau berharap tidak ada kegaduhan, tidak terpancing melakukan kegaduhan, tidak ada diksi komentar panas yang membuat suasana menjadi gaduh.
“Kita harus menjaga agar suasana pemilihan jelang Muktamar tetap baik, bersama dan damai,” ujarnya, Sabtu (16/10/2021) di gedung PWNU Jatim.
Kebersamaan itu, katanya bukan hanya menghadapi Muktamar, tapi lebih jauh menghadapi tugas perjuangan besar NU selanjutnya. Baik dalam konteks perjuangan NU secara domestik mupun internasional, luar dan dalam.
Beliau mengajak untuk berfikir, bagaimana peran strategis NU dalam memimpin bangsa ini agar terhindar dari berbagai ancaman ideologis yang dapat menghancurkan bangsa, terutama dalam menyelamatkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
“Ini tantangan besar. Tantangan untuk selalu bisa mengembangkan moderasi Islam menjadi milik bangsa juga untuk kedamaian dunia,” jelasnya.
Tantangan itu akan dapat dihadapi dengan baik kalau di internal NU Jawa Timur khususnya dan NU se-Indonesia umumnya solid, integratif dan selalu berorientasi ke depan.
Beliau mengajak semua yang hadir untuk selalu bergandeng tangan sesama NU, sesama anak bangsa, bahkan sesama umat manusia.
“Kalau kita tidak bersatu, maka ibarat kita masuk medan perang yang tak punya senjata. Kita akan kalah,” sergahnya.
Beliau katakan, dirinya percaya bahwa yang dicalonkan oleh PWNU Jawa Timur akan mampu membawa amanat NU menuju puncak peradaban, yaitu agar dapat memberi manfaat sebesar-besarnya untuk menjaga harakah Indonesia dan menjadi penyeimbang kekuatan ekstrem dunia.
“Siapapun Ketum PBNU nanti, harus manut pada kebijakan Syuriyah, termasuk Gus Yahya kalau ditakdir menjadi Ketum. Kuncinya,” ungkapnya tegas.
Namun demikian, pungkasnya, semua bentuk ikhtiar dhahir sudah dilakukan. Semua itu hanya usaha ikhtiyar. Beliau percaya ada kekuatan besar dibalik itu semua, yaitu kekuatan doa, kekuatan Allah SWT.
Beliau meyakini, bahwa kepemimpinan NU sudah dikawal oleh para wali. Tugas pengurus, katanya, hanya menciptakan suasana yang damai, sinergitas, damai, rukun. Jika itu dapat lakukan maka akan memasuki rumah besar NU dengan prinsip wasathiyah.
“Mari kita hadapi tantangan dengan penuh tanggung jawab, berjuang dan bertawakal pada Allah SWT,” pungkasnya.
Editor: Firdausi

